Membid’ahkan Azan Dua Kali Pada Shalat Jumat


Masalah ini memang ada dua pendapat secara global, dan keduanya hendaknya diketahui agar kita bisa lapang dada.

 

Pendapat Pertama. Azan pertama dalam shalat Jumat sehingga ada dua kali azan adalah bid’ah.

 

Hal ini dikatakan oleh Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma. Alasannya sederhana, yaitu azan ini tidak ada di masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 

Imam Ibnu Rajab mengatakan:

وروى وكيع في كتابه  عن هشام بن الغاز ، قال : سألت نافعاً عن الأذان يوم الجمعة ؟ فقالَ : قالَ ابن عمر : بدعةٌ ، وكل بدعة ظلالة ، وإن رآه الناس حسناً


Waki’ meriwayatkan dalam kitabnya, dari Hisyam bin al Ghaz, dia berkata: Aku bertanya kepada Nafi’ tentang azan (tambahan) di hari Jumat. Beliau menjawab: “Itu bid’ah, setiap yang bid’ah itu sesat walau dipandang bagus oleh manusia.” (Fath al Bari, 5/452)


Ini juga menjadi pendapatnya ‘Atha bin Abi Rabah, Beliau mengingkari azan tersebut. Menurutnya yang dilakukan oleh Utsman Radhiallahu ‘Anhu adalah mengajak manusia berdoa, bukan azan, menurutnya orang pertama yang menambah azan tersebut adalah Al Hajjaj. (Ibid, 5/451)


Sedangkan Imam asy Syafi’i berkata:

وَقَدْ كَانَ عَطَاءٌ يُنْكِرُ أَنْ يَكُونَ عُثْمَانُ أَحْدَثَهُ وَيَقُولُ أَحْدَثَهُ مُعَاوِيَةُ، وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ‏. ]قَالَ الشَّافِعِيُّ‏]‌‏:‏ وَأَيُّهُمَا كَانَ فَالْأَمْرُ الَّذِي عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَحَبُّ إلَيَّ


‘Atha mengingkari bahwa hal itu dilakukan Utsman, dia mengatakan itu dimulai oleh Mu’awiyah. Wallahu A’lam. Yang mana pun dari keduanya (baik dari Utsman ataukah Muawiyah), aku lebih suka apa yang terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yaitu sekali azan).  (Al Umm, 2/389)


Dari sini kita paham bahwa Imam asy Syafi’i tidak menyalahkan azan dua kali, hanya saja dia lebih suka yang sekali. Sementara Imam Abul Hasan al Mawardi, salah satu tokoh madzhab Syafi’i mengatakan:


فأما الاذان الثاني  فمحدث، فعله عثمان بن عفان ليتأهب الناس لحضور الخطبة عند اتساع المدينة وكثرة أهلها.


Ada pun azan kedua adalah muhdats (bid’ah), apa yang dilakukan oleh Utsman Radhiyallahu ‘Anhu agar orang mampu  bersiap - siap menghadiri khutbah karena kota Madinah waktu itu semakin luas dan banyak penduduknya.  (An Nukat wa al 'Uyun, 6/9)


Sedangkan Syaikh al Albani mengkritik keras pihak yang melakukan azan dua kali dengan sebutan taklid buta, menurutnya mereka tidak melihat alasan Utsman Radhiallahu ‘Anhu dan hikmahnya. Utsman melakukan itu karena penduduk semakin banyak dan rumah berjauhan, pantaslah jika azan sekali tidak bisa dicapai oleh semuanya. Hal itu, di zaman ini sudah tidak terjadi karena adanya pengeras suara dan penduduk berdekatan sehingga suara azan sekali sudah cukup terdengar. (al Ajwibah an Nafi'ah, Hal. 20-21)


Pendapat Kedua. Azan dua kali dalam shalat Jumat, bukan bid’ah tapi sunnah yaitu sunnahnya salah satu Khulafa ar Rasyidin, yaitu Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan untuk mengikuti sunnahnya dan sunnah Khulafa ar Rasyidin. Bahkan sebagian riwayat menyebut sudah ada sejak masa khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu.


Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid mengatakan:

وهذا الأذان ليس من البدع المحدثة بل هو سنة من سنن الخليفة الراشد عثمان بن عفان رضي الله عنه والتي أمر النبي صلى الله عليه وسلم بلزومها في قوله : " عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي


Adzan ini bukanlah bid’ah, justru ini sunnah di antara sunnahnya Khalifah ar Rasyid, Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu di mana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan untuk berpegang kepada sunnahnya dalam hadits: “Hendaknya kalian di atas sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku.”   (Al Islam Su'aal wa Jawaab no. 13478)


Syaikh Anwarsyah Al Kasymiri mengoreksi pihak yang membid’ahkan dengan mengatakan:

قلت: وعلى مَنْ يَدَّعِي الإِحداثَ أن يُجيب عما في «الموطأ» لمالك -ص 36 - : أنهم كانوا في زمن عمر بن الخطاب يُصلُّون يومَ الجُمعة حتى يخرجَ عمرُ بن الخطاب، فإِذا خرج عمر وجلس على المنبر وأَذَّن المؤذنون. وقال ثعلبة: «جلسنا نتحدثُ فإِذا سَكَت المؤذنونَ وقام عمرُ يخطبُ أَنْصَتْنا فلم يتكلمْ مِنَّا أَحَدٌ». اهـ فإن قوله: سكت المؤذنون، وأذن المؤذنون، بصيغة الجَمْع يدلُّ على تَعَدُّدِ الأذانين في عهده رضي الله تعالى عنه.


Aku berkata: kepada pihak yang membid’ahkan jawabannya ada dalam Al Muwaththa, hal. 36, bahwa mereka di zaman Umar bin al Khathab Radhiallahu ‘Anhu shalat di hari Jumat sampai Umar bin al Khatab datang. Begitu Umar datang dan duduk di mimbar maka azanlah para muadzin.” Tsa’labah berkata: “Kami duduk dan ngobrol, jika para muadzin sudah berhenti dan Umar berdiri untuk khutbah maka kami diam dan tidak ada satu di antara kami yang ngobrol... dst.” Ucapannya “para muadzin sudah berhenti “, “para muadzin azan”, dengan bentuk kata jamak menunjukkan bahwa adzan Jumat dimasanya (Umar bin al Khathab) itu berbilang (bukan hanya sekali).  (Faidh al Bari, 2/433)


Hadits yang dimaksud adalah:

عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوَّلُهُ إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ الزَّوْرَاءُ مَوْضِعٌ بِالسُّوقِ بِالْمَدِينَةِ


Saib bin Yazid berkata, “Adalah azan pada hari Jumat, permulaannya adalah apabila imam duduk di atas mimbar, yakni pada masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar Radhiallahu ‘anhuma. Maka pada masa Utsman Radhiallahu ‘Anhu dan orang-orang sudah banyak, ia menambahkan azan yang ketiga diatas Zaura’.”  Berkata Abu Abdillah, Zaura’ adalah suatu tempat di pasar di kota Madinah.  (HR. Bukhari no. 912)


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فإنَّه من يَعِشْ منكم بَعْدي فسَيَرى اختلافاً كثيراً، فعليكُم بسنَّتي وسُنَّةِ الخُلفاءِ، المَهديِّينَ الرَّاشدينَ، تَمَسَّكوا بها وعَضُّوا عليها بالنَّواجذِ


Sesungguhnya siapa di antara kamu yang hidup setelah aku wafat, niscaya akan banyak melihat perselisihan, maka peganglah sunnahku dan sunnah para khalifah yang telah mendapatkan petunjuk (Khulafa’ ar Rasyidin), peganglah kuat-kuat dan gigit dengan geraham kalian.  (HR. Abu Daud no. 4607, dishahihkan oleh Imam at Tirmidzi, Imam Ibnu Hibban, dll)


Dalam hadits disebutkan dengan istilah “azan ketiga”, sebab iqamah dalam banyak hadits juga disebut azan, sehingga totalnya tiga azan. Apa yang dilakukan Utsman Radhiallahu ‘Anhu diikuti manusia diseluruh negeri di masanya, Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan:


والذي يظهر أن الناس أخذوا بفعل عثمان في جميع البلاد إذ ذاك لكونه خليفة مطاع الأمر


Yang nampak adalah manusia mengambil (mengikuti) perbuatan Utsman ini di semua negeri karena posisinya sebagai khalifah yang ditaati perintahnya.  (Fath al Bari, 2/394)


Al Hafizh juga mengomentari pembid’ahan-nya Ibnu Umar sebagai berikut:

فيحتمل أن يكون قال ذلك على سبيل الإنكار ويحتمل أنه يريد أنه لم يكن في زمن النبي صلى الله عليه وسلم وكل ما لم يكن في زمنه يسمى بدعة لكن منها ما يكون حسنا ومنها ما يكون بخلاف ذلك

 

Apa yang dikatakannya dipahami sebagai pengingkaran, dan dimaknai bahwa itu belum terjadi di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tiap hal yang belum terjadi di masanya dinamakan bid’ah tetapi di antaranya ada yang HASAN (bagus) dan ada yang menyelisihi hal itu.  (Ibid)


Maka, siapa yang di masjidnya shalat Jumat dengan sekali azan dan sekali iqamah maka dia telah mengikuti sunnah. Siapa yang masjidnya shalat Jumat dengan dua kali azan dan sekali iqamah maka dia telah mengikuti sunnah salah satu khalifah yang empat, yang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam perintahkan untuk diikuti. Keduanya masih on the track sunnah. Seandainya itu bid’ah, sudah pasti sahabat nabi lainnya akan mengingkarinya, tapi mereka mendiamkannya sehingga para ulama menyebutnya ijma’ sukuti (kesepakatan diam-diam).


Imam Badruddin al ‘Aini menjelaskan:

وموافقة سَائِر الصَّحَابَة بِهِ بِالسُّكُوتِ وَعدم الْإِنْكَار، فَصَارَ إِجْمَاعًا سكوتيا


Apa yang dilakukan Utsman disepakati oleh semua sahabat secara diam-diam dan tidak ada yang mengingkarinya, maka ini menjadi ijma’ sukuti.  ('Umdah al Qari, 6/211)


Hal ini juga dikatakan Al Lajnah Ad Daimah kerajaan Arab Saudi mengatakan kebolehan azan dua kali ini adalah IJMA’ SUKUTI (kesepakatan diam-diam) para sahabat nabi.


Dalam fatwa yang ditanda tangani Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ini tertulis:

وقد علق القسطلاني في شرحه للبخاري على هذا الحديث بأن النداء الذي زاده عثمان هو عند دخول الوقت، وسماه ثالثًا باعتبار كونه مزيداً على الأذان بين يدي الإمام والإقامة للصلاة ، وأطلق على الإقامة أذاناً تغليباً ، بجامع الإعلام فيهما، وكان هذا الأذان لما كثر المسلمون فزاده اجتهاداً منه، ووافقه سائر الصحابة له بالسكوت وعدم الإنكار ؛ فصار إجماعاً سكوتياً


Al Qasthalani telah memberikan komentar terhadap hadits ini dalam Syarah (penjelasan)nya terhadap Shahih Bukhari , bahwa adzan tersebut dilakukan ketika waktu sudah masuk. Hal ini  dinamakan adzan ketiga karena sebagai adzan tambahan atas adzan ketika imam naik mimbar dan iqamat untuk shalat.  Secara mutlak iqamat adalah adzan, karena pada keduanya menghimpun adanya pemberitahuan shalat. Adzan ini terjadi pada saat kaum muslimin banyak jumlahnya, tambahan azan tersebut merupakan ijtihad, dan disepakati oleh semua sahabat, mereka mendiamkannya dan tidak mengingkarinya. Maka hal ini menjadi ijma’ sukuti.  (Fatawa Al Lajnah ad Daimah, 8/199)


Alasan adanya azan tambahan tersebut karena manusia saat itu semakin banyak. Sekali azan ternyata tidak cukup bagi mereka untuk mendatangi masjid, akhirnya Utsman Radhiallahu ‘Anhu berijtihad untuk di adakan azan yang pertama sebagai panggilan bagi mereka. Zaman ini penduduk lebih banyak lagi, seakan kondisi hari ini justru lebih beralasan lagi untuk melakukan azan tersebut. Oleh karenanya sampai hari ini Masjid al Haram dan Masjid an Nabawi melakukan azan jumat dua kali, plus iqamah. Syaikh Shalih Fauzan memiliki penjelasan yang bagus:


الأذان الأول سنة الخلفاء الراشدين، فقد أمر به عثمان رضي الله عنه في خلافته لما كثر الناس وتباعدت أماكنهم، فصاروا بحاجة إلى من ينبههم لقرب صلاة الجمعة، فصار سنة إلى يومنا هذا، والنبي صلى الله عليه وسلم يقول: عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين. وعثمان من الخلفاء الراشدين وقد فعل هذا وأقره الموجودون في خلافته من المهاجرين والأنصار، فصار سنة ثابته. والذي نراه أن الأمر واسع فمن أذن أذانا واحداً فهو بذلك متأسٍ برسول الله صلى الله عليه وسلم ومقتدٍ بأبي بكر وعمر ، ومن أذن أذانين فهو بذلك مقتد بالخليفة الراشد عثمان بن عفان ومن وافقه من المهاجرين والأنصار.


Azan pertama adalah sunnahnya Khulafa ar Rasyidin, Utsman Radhiallahu ‘Anhu telah memerintahkannya di masa kekhalifahannya disebabkan banyaknya penduduk dan tempat mereka berjauhan, hal itu menjadi diperlukan untuk memberitahu mereka agar mendatangi shalat Jumat, maka hal ini menjadi SUNNAH SAMPAI HARI INI. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Hendaknya kalian di atas sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku.”  Utsman termasuk Khulafa ar rasyidin, dia telah melakukan hal ini dan disetujui orang-orang saat itu baik Muhajirin dan Anshar maka itu menjadi sunnah yang kuat. Kami lihat permasalahan ini masalah yang lapang saja, siapa yang azannya sekali maka dia punya dasar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, diikuti Abu Bakar, dan Umar. Siapa yang azannya dua kali maka dia telah mengikuti Khalifah ar Rasyid yaitu Utsman dan orang-orang yang menyetujuinya dari kalangan Muhajirin dan Anshar.  (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 18313)


Kesimpulannya: Azan shalat Jumat baik sekali atau dua kali adalah benar dan masalah ini lapang saja. Hendaknya pembuat broadcast itu tidak membuat gaduh dengan menyebarkan masalah sensitif tanpa landasan ilmu. Demikian. Wallahu A’lam

ALMAS YUSLIM

Komentar

Postingan Populer